Permenaker Nomor 7 Tahun 2026 tentang Pekerjaan Alih Daya sudah diundangkan dan berlaku sejak 30 April 2026, dengan masa transisi dua tahun bagi perjanjian alih daya yang sudah berjalan. Menurut Hukumonline (1 Mei 2026), aturan ini membolehkan alih daya hanya untuk enam jenis pekerjaan penunjang: layanan kebersihan, penyediaan makanan dan minuman, pengamanan, penyediaan pengemudi dan angkutan pekerja/buruh, layanan penunjang operasional, serta pekerjaan penunjang di bidang pertambangan, perminyakan, gas, dan ketenagalistrikan. Yang bisa dan harus disiapkan sekarang adalah pencatatan: jenis pekerjaan tiap penempatan, dasar kontrak tiap karyawan, riwayat penempatan lintas client, dan bukti kepatuhan upah serta BPJS.
Yang sudah pasti dari Permenaker 7/2026
Kementerian Ketenagakerjaan, lewat JDIH Kemnaker, mencatat Permenaker 7/2026 tentang Pekerjaan Alih Daya sudah diundangkan dan berlaku 30 April 2026. Dasar hukumnya adalah UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, PP 35/2021 tentang PKWT, Alih Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat, dan PHK, serta UU 6/2023 tentang Cipta Kerja.
Ketentuan peralihannya jelas: perjanjian alih daya yang sudah berjalan wajib disesuaikan paling lambat dua tahun sejak aturan ini diundangkan. Dua tahun terdengar lama, tapi kalau perusahaan punya puluhan kontrak client dengan tanggal mulai berbeda beda, menghitung mana yang jatuh tempo lebih dulu butuh data yang sudah rapi, bukan dikumpulkan mendadak menjelang tenggat.
Yang belum bisa dipastikan, jangan menebak
Halaman JDIH Kemnaker baru menampilkan ringkasan, tetapi isi pasalnya sudah dikutip media hukum. Menurut Hukumonline, Permenaker 7/2026 membatasi alih daya pada enam jenis pekerjaan penunjang dan mewajibkan perusahaan alih daya mencatatkan perjanjian alih daya ke dinas ketenagakerjaan kabupaten/kota paling lambat tiga hari kerja setelah ditandatangani. Bentuk perjanjian dan rincian perizinannya tetap perlu dicek ke teks resmi.
Daftar ini kemungkinan menyempit lagi: menurut pemberitaan, UU Pelindungan Ketenagakerjaan yang disahkan DPR 6 Oktober 2026 membatasi alih daya pada empat jenis pekerjaan ditambah jasa penunjang pertambangan dan migas, dengan masa transisi satu tahun sejak diundangkan. Rinciannya kami tulis di artikel tentang pembatasan empat jenis pekerjaan.
Kemnaker juga merujuk Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 168/PUU-XXI/2023 sebagai dasar penetapan Upah Minimum Sektoral 2026. Isi lengkap amar putusan dan tenggat yang diperintahkan MK kepada pembentuk undang undang belum bisa diverifikasi karena situs resmi MK menolak akses saat dicek. Rujukannya ada, isi lengkapnya belum bisa dipastikan.
| Aspek | Status |
|---|---|
| Status Permenaker 7/2026 | Sudah diundangkan, berlaku 30 April 2026 |
| Masa transisi kontrak | Paling lambat dua tahun sejak diundangkan |
| Dasar hukum | UU 13/2003, PP 35/2021, UU 6/2023 |
| Jenis pekerjaan penunjang | Enam jenis, menurut Hukumonline (1 Mei 2026) |
| Dasar Upah Minimum Sektoral 2026 | Merujuk Putusan MK 168/PUU-XXI/2023, isi lengkap belum terverifikasi |
Kewajiban yang sudah berlaku sekarang, tidak menunggu aturan baru
Surat Edaran Menaker Nomor M/3/HK.04.00/III/2026 tentang THR Keagamaan 2026, terbit 2 Maret 2026 dan ditandatangani Menaker Yassierli, sudah mengikat. THR wajib dibayar penuh, tidak boleh dicicil, paling lambat tujuh hari sebelum hari raya. Pekerja dengan masa kerja dua belas bulan atau lebih menerima satu bulan upah, sedangkan yang di bawah itu dihitung proporsional.
Iuran BPJS Ketenagakerjaan juga jalan seperti biasa. Jaminan Hari Tua 5,7% dari upah, dua persen ditanggung pekerja dan 3,7% pemberi kerja. Jaminan Kecelakaan Kerja 0,24% sampai 1,74% sesuai kategori risiko berdasarkan PP 6/2025. Jaminan Kematian 0,3%, Jaminan Pensiun 3% (2% pemberi kerja, 1% pekerja) dengan batas upah Rp11.086.300 per bulan sejak 1 Maret 2026, naik dari Rp10.547.400 yang berlaku sejak Maret 2025, dan Jaminan Kehilangan Pekerjaan 0,36%, terdiri dari 0,22% dari Pemerintah Pusat dan 0,14% rekomposisi iuran JKK, tanpa tambahan iuran dari pemberi kerja atau pekerja. Untuk penyedia tenaga kerja dengan penempatan di banyak client, bukti setoran ini yang biasanya diminta lebih dulu saat ada pemeriksaan.
Pencatatan yang harus rapi sebelum aturan baru mengikat penuh
Daftar enam jenis pekerjaan itu sudah bisa dipakai untuk memetakan penempatan, dan pencatatan berikut yang membuat pemetaan itu bisa dibuktikan.
- Jenis pekerjaan tiap penempatan, dicatat per client dan per periode, bukan hanya nama jabatan umum.
- Dasar kontrak tiap karyawan: PKWT atau PKWTT, tanggal mulai, tanggal berakhir, dan riwayat perpanjangannya.
- Riwayat penempatan yang mengikuti orangnya, termasuk kapan dipindah antar client dan alasan mutasinya.
- Bukti kepatuhan upah dan BPJS per periode gaji, bukan rekap tahunan yang disusun ulang saat diminta.
Kalau keempat data ini tersebar di spreadsheet berbeda milik tiap client manager, menyatukannya saat aturan sudah mengikat akan memakan waktu.
Kenapa kecepatan menarik data ini yang menentukan besar kerugian
Begitu ketentuan peralihan mulai ditagih, ukurannya bukan seberapa perusahaan merasa sudah patuh, tapi seberapa cepat data yang diminta bisa ditunjukkan, dan berapa banyak kontrak yang masih harus disesuaikan sebelum tenggat dua tahun habis. Perusahaan yang datanya tersebar mengecek satu per satu, sementara yang datanya sudah terpusat tinggal menarik laporan.
Di HRIS Alidaya, satu data induk karyawan menyimpan riwayat yang ikut orangnya lintas penempatan, bukan dibuat ulang tiap kali dipindah ke client baru. Kontrak PKWT tercatat dengan tanggal jatuh tempo yang bisa dipantau, dan penggajian menyimpan bukti komponen upah serta iuran per periode, bukan hanya angka akhir yang dibayarkan. Ini tidak membuat perusahaan otomatis patuh, tapi membuat posisi perusahaan bisa dibuktikan lebih cepat kalau ditanya.
Ada yang bisa dicek lebih dulu: apakah sistem pencatatan yang dipakai sekarang bisa menampilkan jenis pekerjaan per penempatan, dasar kontrak per karyawan, riwayat penempatan, dan bukti upah plus BPJS dalam hitungan menit, bukan hari. Hitung juga berapa kontrak alih daya yang aktif dan kapan masing masing jatuh tempo penyesuaian dalam masa transisi dua tahun ini.
Alidaya, HRIS untuk perusahaan alih daya dari Digieco, punya seratus modul yang mencakup data karyawan, kontrak, penempatan, absensi, sampai penggajian, disewa bulanan per karyawan tanpa biaya lisensi di muka, dan bisa diakses lewat browser maupun aplikasi HP. Pertanyaan yang lebih penting dari nama vendornya: kalau besok diminta menunjukkan dasar kontrak dan bukti BPJS satu karyawan tertentu, berapa lama itu bisa ditarik dari sistem yang dipakai sekarang.
Isi Alidaya per kelompok modul, termasuk yang mencatat kontrak dan penempatan, ditulis terpisah di artikel tentang aplikasi HR untuk perusahaan outsourcing.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Kapan Permenaker 7/2026 tentang Pekerjaan Alih Daya mulai berlaku?
Aturan ini sudah diundangkan dan berlaku sejak 30 April 2026, menurut Kementerian Ketenagakerjaan lewat JDIH Kemnaker. Dasar hukumnya UU 13/2003, PP 35/2021, dan UU 6/2023 tentang Cipta Kerja.
Berapa lama waktu yang diberikan untuk menyesuaikan kontrak alih daya yang sudah berjalan?
Ketentuan peralihannya mewajibkan penyesuaian paling lambat dua tahun sejak Permenaker 7/2026 diundangkan. Dua tahun cukup panjang, tapi baru berguna kalau data kontrak dan penempatan sudah rapi sejak sekarang, bukan dikumpulkan menjelang tenggat.
Apakah isi pasal soal jenis pekerjaan penunjang yang boleh dialihdayakan sudah bisa dibaca?
Sebagian sudah. Hukumonline (1 Mei 2026) melaporkan enam jenis pekerjaan penunjang yang boleh dialihdayakan: kebersihan, makanan dan minuman, pengamanan, pengemudi dan angkutan pekerja, penunjang operasional, serta penunjang pertambangan, migas, dan ketenagalistrikan. Teks lengkapnya tetap perlu dicek di JDIH Kemnaker sebelum dipakai untuk mengubah kontrak.
Data apa yang paling penting disiapkan penyedia tenaga kerja sekarang?
Empat hal: jenis pekerjaan tiap penempatan, dasar kontrak tiap karyawan, riwayat penempatan lintas client, dan bukti kepatuhan upah serta BPJS per periode gaji. Ini yang biasanya diminta lebih dulu saat posisi perusahaan perlu dibuktikan.
Apakah pakai HRIS seperti Alidaya membuat perusahaan otomatis patuh terhadap aturan baru ini?
Tidak. Software tidak membuat perusahaan patuh, ia hanya membuat data yang dibutuhkan bisa ditarik lebih cepat saat ditanya. Kepatuhan tetap soal isi kontrak dan praktik kerja, bukan sistem yang mencatatnya.